Campak merupakan penyakit yang disebabkan oleh morbillivirus, virus ini menular dengan mudah melalui percikan air liur (droplets) dari mulut dan hidung dari penderita campak ketika bersin, batuk dan berbicara. Penularan juga bisa terjadi melalui benda yang terkontaminasi virus dari droplets yang tersentuh tangan terus memegang hidung atau mulut. Gejala awal campak mirip dengan gejala flu seperti: demam, pilek, batuk kering, lemas, tidak nafsu makan, diare, muntah, muncul bercak putih di dalam mulut, mata merah berair dan sensitif terhadap cahaya. Setelah beberapa hari akan muncul ruam merah didaerah wajah dan leher dan dapat menyebar ke seluruh tubuh. Ruam-ruam ini berukuran kecil tetapi dapat menyatu membentuk ruam yang besar.

 

Belum lama di bulan Agustus 2025 terdapat pemberitaan tentang KLB Campak di Sumenep Jawa Timur, terdapat 20 anak meninggal dunia akibat campak, angka yang cukup banyak. Campak juga berbahaya bagi ibu hamil karena dapat meningkatkan resiko premature, bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR) dan keguguran. 1 orang terkena campak dapat menularkan ke 18 orang lainnya, bisa dibayangkan jika 18 orang terinfeksi masing-masing menularkan yang lainnya. Meskipun penyakit ini sangat mudah menular tetapi bisa dicegah dengan pemberian imunisasi, campak masuk dalam PD3I (Penyakit Dapat Dicegah Dengan Imunisasi) seperti Difteri, Hepatitis, Polio, pertusis dan Rubella.

 

Data dari Kementerian Kesehatan pada tahun 2025 terdapat 116 KLB (Kejadian Luar Biasa) campak di 16 provinsi dengan 63.769 kasus suspek, sedangkan pada tahun ini (2026) sampai dengan bulan Februari sudah terjadi 12 KLB penyakit campak yang terkonfirmasi di 6 provinsi dengan jumlah kasus suspek 8.810 kasus. Terjadi peningkatatan kasus campak salah satunya disebabkan turunnya cakupan imunisasi terutama di saat pandemic Covid-19.

 

Beberapa faktor yang mempengaruhi cakupan imunisasi:

 

1. Faktor kepercayaan dan sosial budaya

Ada kepercayaan atau anggapan dari beberapa orang yang menyampaikan bahwa tanpa imunisasi anak akan tetap sehat, vaksin itu tidak halal dan penyakit bisa disembuhkan dengan pengobatan tradisional yang turun temurun.

 

2. Orang tua khawatir anak demam, bengkak di daerah bekas suntik dan rewel serta terjadi apa-apa

Orang tua baik ayah atau ibu kadang keberatan jika anaknya diimunisasi khawatir anaknya demam, rewel dan terjadi apa-apa setelah imunisasi. Pertanyaan yang sering muncul di masyarakat "kalau anak saya ada apa-apa setelah imunisasi bagaimana dan siapa yang akan tanggung jawab?”. Mengedukasi masyarakat tidak bisa dengan keras nanti akan ditolak. Harus didengarkan dulu sambil bertanya jangan langsung dikoreksi, berikan apresiasi kekhawatiran orang tua dan setelah itu memberikan klarifikasi ke orang tua dengan bahasa sederhana dan solusinya

 

3. Edukasi informasi dan melawan berita hoax

Banyak informasi yang salah dan hoax di media sosial tentang akibat imunisasi, bahwa imunisasi melemahkan kesehatan anak, habis disuntik lumpuh atau mati, dan tidak halal karena ada unsur babi.

 

4. Dukungan lintas sektor

Dukungan lintas sektor sangat penting dalam meningkatkan cakupan imunisasi, sektor kesehatan tidak dapat jalan sendiri tanpa dukungan dan kerja sama dari pihak lain, mulai pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat, kader dan 3 pilar. Dukungan berupa dana, pendampingan, pemberian contoh dan edukasi ke masyarakat dan melawan berita hoax.

 

5. Akses layanan kesehatan tidak merata

Salah satu masalah yang masih dihadapi adalah akses layanan kesehatan tidak merata, Indonesia luas dengan geografi yang berbeda, infrastruktur seperti: jumlah fasilitas kesehatan masih kurang dan jauh, jalan dan jembatan yang belum baik menjadi penyebab rendahnya cakupan imunisasi.

 

Anak yang belum mendapatkan imunisasi 90% lebih beresiko tertular campak, jika orang tua masih ragu atau takut bisa berkonsultasi ke dokter untuk ahli untuk mencari informasi tentang keamanan dan kehalalan vaksin campak (MR / Measles-Rubella). Kementerian Kesehatan menghimbau agar orang tua segera melengkapi imunisasi campak (MR) di usia 9-18 Bulan. Jika ada gejala KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi), misalkan demam, nyeri atau bengkak di lokasi suntik dan ruam  umumnya ringan. Reaksi ini wajar karena tubuh membentuk antibodi untuk dapat mengenali dan virus penyebab campak nantinya dan biasa akan sembuh 1-2 hari. 

 

Referensi:

Yuliani, Arif, Ahmad. Et all. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Rendahnya Capaian Imunisasi Booster Campak Pada Anak Usia 18 Sampai 24 Bulan Di Puskesmas Petaling Kabupaten Banyuasin. Jurnal Kesehatan Saintika Meditory. Volume 7 Nomor 1.

 

https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/jhsj/article/download/26815/9149

 

https://kumparan.com/kumparannews/dinkes-kasus-kematian-akibat-campak-di-sumenep-karena-tak-vaksin-26wZJqquxuP

 

 

Sumber gambar; freepik