Alek Gugi Gustaman
Indonesia sedang memasuki era masyarakat menua (ageing population). Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa jumlah penduduk lanjut usia terus meningkat setiap tahun. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi pelayanan kesehatan karena bertambahnya usia tidak hanya meningkatkan risiko penyakit kronis, tetapi juga menimbulkan berbagai sindrom geriatri, termasuk sarkopenia dan frailty.
Sayangnya, kedua istilah ini masih jarang dikenal masyarakat. Tidak sedikit yang menganggap keduanya merupakan kondisi yang sama karena sama-sama menyebabkan lansia tampak lemah. Padahal, sarkopenia dan frailty memiliki karakteristik, penyebab, serta penanganan yang berbeda.
Memahami perbedaan keduanya sangat penting agar lansia memperoleh deteksi dini dan intervensi yang tepat sehingga tetap dapat hidup mandiri, aktif, dan produktif.
Apa itu Sarkopenia?
Sarkopenia adalah kondisi berkurangnya massa otot, kekuatan otot, dan kemampuan fisik secara progresif. Kondisi ini umumnya terjadi pada usia lanjut, tetapi juga dapat muncul pada usia lebih muda akibat penyakit kronis, kurang aktivitas fisik, atau kekurangan nutrisi.
Diagnosis sarkopenia tidak hanya didasarkan pada kecilnya massa otot, tetapi juga mempertimbangkan kekuatan otot dan performa fisik seseorang. Sederhananya, seseorang dengan sarkopenia mengalami penurunan kualitas otot sehingga aktivitas sederhana seperti berdiri dari kursi, menaiki tangga, atau membawa barang menjadi lebih sulit.
Apa itu Frailty ?
Frailty atau sindrom kerapuhan adalah kondisi menurunnya cadangan fisiologis tubuh sehingga seseorang menjadi sangat rentan terhadap berbagai stresor, seperti infeksi ringan, operasi kecil, atau perubahan lingkungan.
Pada kondisi ini, tubuh kehilangan kemampuan untuk mempertahankan keseimbangan ketika menghadapi gangguan kesehatan.
Frailty bukan sekadar kelemahan otot, melainkan melibatkan berbagai sistem tubuh, termasuk:
• Sistem otot
• Sistem saraf
• Sistem hormonal
• Sistem imun
• Status gizi
• Fungsi metabolisme
Seseorang yang mengalami frailty memiliki risiko lebih tinggi mengalami jatuh, rawat inap, kecacatan, hingga kematian dibandingkan lansia yang tidak mengalami frailty.
Tanda dan Gejala Sarkopenia
Gejala yang sering ditemukan antara lain: Otot tampak mengecil, Kekuatan genggaman tangan menurun, Sulit bangun dari kursi, Sulit naik tangga, Berjalan lebih lambat, Mudah lelah, Sering kehilangan keseimbangan,Berat badan menurun karena massa otot berkurang.
Tanda dan Gejala Frailty
Seseorang dicurigai mengalami frailty apabila memiliki beberapa kondisi berikut: Mudah lelah, Berat badan turun tanpa disengaja, Aktivitas fisik menurun, Kecepatan berjalan melambat, Kekuatan tubuh menurun, Mudah jatuh, Sulit melakukan aktivitas sehari-hari, Lebih sering dirawat di rumah sakit, Pemulihan setelah sakit berlangsung lebih lama.
Dampak Sarkopenia
• Risiko jatuh meningkat.
• Tulang mudah patah.
• Kesulitan berjalan.
• Ketergantungan pada orang lain.
• Penurunan kualitas hidup.
• Lama rawat inap menjadi lebih panjang.
Dampak Frailty
Frailty memiliki dampak yang lebih luas, yaitu:
• Penurunan kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari.
• Risiko infeksi lebih tinggi.
• Perawatan rumah sakit berulang.
• Penurunan fungsi kognitif.
• Risiko kecacatan.
• Mortalitas meningkat.
Cara Mencegah Sarkopenia dan Frailty
Kedua kondisi ini dapat dicegah bahkan diperlambat melalui gaya hidup sehat.
1. Rutin melakukan latihan kekuatan otot
Latihan beban merupakan cara paling efektif mempertahankan massa otot misalnya : Mengangkat dumbbell ringan, Menggunakan resistance band, Berdiri-duduk dari kursi berulang, Naik turun tangga sesuai kemampuan.
2. Konsumsi protein yang cukup
Protein merupakan bahan utama pembentukan otot. Sumber protein yang baik meliputi: Ikan, Telur, Ayam, Tempe, Tahu, Susu, Daging tanpa lemak, kacang – kacangan.
3. Penuhi Vitamin dan Mineral
Vitamin D, kalsium, vitamin B12, dan berbagai mikronutrien berperan penting menjaga kesehatan otot dan tulang. Paparan sinar matahari pagi selama 10–15 menit beberapa kali seminggu juga membantu pembentukan vitamin D.
4. Tetap Aktif Bergerak
Kurangi kebiasaan duduk terlalu lama. Aktivitas sederhana seperti berjalan pagi, berkebun, menyapu rumah, atau senam lansia sangat bermanfaat menjaga kekuatan tubuh.
5. Kendalikan Penyakit Kronis
Hipertensi, diabetes, penyakit jantung, penyakit paru, dan penyakit ginjal perlu dikontrol secara rutin karena dapat mempercepat terjadinya sarkopenia maupun frailty.
6. Jaga Interaksi Sosial
Aktivitas sosial membantu menjaga kesehatan fisik dan mental lansia. Mengikuti Posyandu Lansia, senam bersama, kegiatan keagamaan, atau komunitas lansia dapat mengurangi risiko frailty.
Segera berkonsultasi ke dokter atau fasilitas kesehatan apabila lansia mengalami:
• Berat badan turun tanpa sebab.
• Kesulitan berjalan.
• Mudah jatuh.
• Sulit berdiri dari kursi.
• Kelemahan yang semakin berat.
• Aktivitas sehari-hari mulai terganggu.
• Nafsu makan menurun dalam waktu lama.
• Mudah lelah meskipun aktivitas ringan.
Deteksi dini memungkinkan tenaga kesehatan memberikan edukasi, latihan fisik, perbaikan nutrisi, serta penanganan penyakit penyerta sebelum kondisi menjadi lebih berat.
Sarkopenia dan frailty merupakan dua kondisi yang sering ditemukan pada lansia, namun keduanya tidak sama. Sarkopenia berfokus pada penurunan massa dan kekuatan otot, sedangkan frailty adalah sindrom kerapuhan yang melibatkan penurunan fungsi berbagai sistem tubuh. Keduanya meningkatkan risiko jatuh, kecacatan, rawat inap, hingga kematian apabila tidak ditangani.
Pencegahan dapat dilakukan melalui aktivitas fisik yang teratur, latihan kekuatan otot, konsumsi protein yang cukup, pengendalian penyakit kronis, serta pemeriksaan kesehatan secara berkala. Dengan deteksi dini dan intervensi yang tepat, lansia dapat tetap sehat, aktif, mandiri, dan menikmati masa tua dengan kualitas hidup yang lebih baik.
Daftar Pustaka
1. Cruz-Jentoft AJ, Bahat G, Bauer J, et al. Sarcopenia: Revised European Consensus on Definition and Diagnosis (EWGSOP2). Age and Ageing. 2019;48(1):16–31.
2. World Health Organization. Integrated Care for Older People (ICOPE): Guidance for Person-Centred Assessment and Pathways in Primary Care. Geneva: WHO; 2019.
3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pelayanan Kesehatan Lanjut Usia di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer. Jakarta: Kemenkes RI.