alek gugi gustaman

Setiap September, masyarakat di berbagai negara memperingati World Alzheimer’s Month (WAM) sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran mengenai penyakit Alzheimer dan berbagai bentuk demensia.

Pada tahun 2026, Alzheimer's Disease International (ADI) mengangkat tema “The Earlier You Know, The More You Can Do: A Dementia Diagnosis Matters.” Kampanye tahun ini memberikan perhatian khusus pada pentingnya diagnosis lebih dini serta upaya mengatasi stigma dan diskriminasi yang masih melekat pada demensia. 

Pesannya sederhana: semakin cepat perubahan fungsi kognitif dikenali dan diperiksa, semakin banyak hal yang dapat dipersiapkan dan dilakukan.

Menurut World Health Organization (WHO), pada 2021 terdapat sekitar 57 juta orang yang hidup dengan demensia di seluruh dunia, dengan hampir 10 juta kasus baru setiap tahun. Lebih dari 60% orang dengan demensia tinggal di negara berpendapatan rendah dan menengah. Alzheimer merupakan bentuk demensia yang paling umum dan diperkirakan berkontribusi terhadap sekitar 60–70% kasus demensia.

Angka tersebut menunjukkan bahwa demensia bukan hanya persoalan individu atau keluarga, tetapi juga merupakan tantangan kesehatan masyarakat.

Apa Itu Demensia dan Penyakit Alzheimer?

Demensia bukan nama satu penyakit tertentu, melainkan istilah umum untuk sekumpulan gejala akibat gangguan pada otak yang menyebabkan penurunan kemampuan mengingat, berpikir, berkomunikasi, mengambil keputusan, atau menjalankan aktivitas sehari-hari.

Sementara itu, penyakit Alzheimer merupakan bentuk demensia yang paling umum. Penyakit ini berlangsung secara progresif dan dapat menyebabkan penurunan kemampuan kognitif serta kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari. 

Hal penting yang perlu dipahami masyarakat adalah:

Demensia bukan bagian normal dari proses penuaan.

Memang, bertambahnya usia dapat disertai perubahan ringan dalam daya ingat. Misalnya, sesekali lupa meletakkan kunci atau membutuhkan waktu lebih lama untuk mengingat nama seseorang. Namun, perubahan yang semakin sering, memburuk, dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari perlu mendapatkan perhatian. 

Kenali Tanda Awal yang Perlu Diwaspadai

Tidak semua kelupaan berarti Alzheimer atau demensia. Namun, masyarakat perlu waspada apabila muncul perubahan yang menetap atau semakin mengganggu aktivitas.

Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:

• Sering lupa informasi atau percakapan yang baru saja terjadi.

• Mengulang pertanyaan atau cerita yang sama berkali-kali.

• Kesulitan merencanakan atau menyelesaikan pekerjaan yang sebelumnya biasa dilakukan.

• Kesulitan melakukan aktivitas yang sudah familiar.

• Bingung mengenai waktu atau tempat.

• Kesulitan menemukan kata yang tepat saat berbicara atau menulis.

• Sering kehilangan barang dan tidak mampu mengingat kembali langkah untuk menemukannya.

• Mengalami penurunan kemampuan dalam mengambil keputusan.

• Mulai menarik diri dari aktivitas sosial atau kegiatan yang sebelumnya disukai.

• Terjadi perubahan kepribadian, suasana hati, atau perilaku.

Mengapa Diagnosis Dini Penting?

Diagnosis yang tepat bukan sekadar memberikan nama penyakit. Diagnosis dapat membantu seseorang dan keluarga memahami apa yang sedang terjadi serta menentukan langkah berikutnya.

Pemeriksaan lebih awal dapat membantu:

Pertama, mencari penyebab keluhan.

Penurunan daya ingat tidak selalu disebabkan oleh demensia. Evaluasi tenaga kesehatan dapat membantu membedakan demensia dari kondisi lain yang mungkin dapat ditangani.

Kedua, memperoleh penanganan dan dukungan yang sesuai.

Diagnosis memungkinkan tenaga kesehatan menyusun rencana perawatan berdasarkan kondisi individu.

Ketiga, mempersiapkan keluarga.

Keluarga dapat lebih awal mendiskusikan kebutuhan perawatan, keselamatan, aktivitas sehari-hari, serta dukungan bagi caregiver.

Keempat, mempertahankan kualitas hidup selama mungkin.

Intervensi yang tepat, dukungan psikososial, aktivitas fisik, stimulasi kognitif, dan pengelolaan penyakit penyerta dapat menjadi bagian dari perawatan komprehensif.

Sejalan dengan tema WAM 2026, diagnosis merupakan salah satu pintu penting untuk memperoleh pilihan perawatan, dukungan, dan perencanaan yang lebih baik. 

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan pada Agustus 2026 juga telah menerbitkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/273/2026 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Klinis (PNPK) Tata Laksana Demensia, sebagai acuan pelayanan demensia yang komprehensif dan berbasis bukti.

Faktor Risiko Demensia: Apa yang Bisa Kita Kendalikan?

Usia merupakan salah satu faktor risiko terpenting, tetapi bukan berarti demensia pasti terjadi pada setiap orang lanjut usia.

WHO pada 2026 memperbarui panduan mengenai pengurangan risiko penurunan kognitif dan demensia. Hingga 45% risiko demensia diperkirakan berkaitan dengan faktor risiko yang dapat dimodifikasi, termasuk kurang aktivitas fisik, merokok, konsumsi alkohol, isolasi sosial, polusi udara, tekanan darah tinggi, dan diabetes.

Karena itu, menjaga kesehatan otak sebaiknya dilakukan sejak dini melalui kebiasaan sederhana:

• Aktif bergerak dan melakukan aktivitas fisik secara rutin.

• Mengendalikan tekanan darah, gula darah, dan kolesterol.

• Tidak merokok.

• Membatasi atau menghindari konsumsi alkohol.

• Mengonsumsi makanan bergizi seimbang.

• Menjaga berat badan tetap sehat.

• Tetap aktif berinteraksi dengan keluarga dan lingkungan sosial.

• Melakukan aktivitas yang merangsang kemampuan berpikir dan belajar.

• Menjaga kesehatan pendengaran dan penglihatan.

• Tidur cukup dan menjaga kesehatan mental.

Langkah-langkah tersebut bukan jaminan seseorang tidak akan mengalami demensia, tetapi dapat membantu menjaga kesehatan otak dan mengurangi berbagai faktor risiko yang dapat dimodifikasi.

Hentikan Stigma terhadap Demensia

Salah satu tantangan dalam penanganan demensia adalah stigma.

Orang dengan demensia terkadang dianggap “pikun biasa”, tidak mampu berbuat apa-apa, atau bahkan diperlakukan seolah-olah tidak mampu mengambil bagian dalam kehidupan sosial. Pandangan tersebut dapat membuat keluarga merasa malu dan menunda mencari pertolongan.

Padahal, seseorang dengan demensia tetap memiliki martabat, kebutuhan emosional, hak untuk dihargai, dan kebutuhan untuk mendapatkan dukungan.

Jangan menjadikan diagnosis sebagai alasan untuk menjauhkan seseorang dari kehidupan sosial.

Sebaliknya, berikan dukungan, dengarkan, bantu menjaga keselamatan, dan libatkan keluarga dalam proses perawatan.

Kapan Harus Memeriksakan Diri?

Segera konsultasikan kepada tenaga kesehatan apabila perubahan daya ingat, perilaku, kemampuan berpikir, atau kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari mulai terlihat dan semakin mengganggu.

Pemeriksaan menjadi semakin penting apabila perubahan tersebut:

• terjadi berulang dan semakin sering;

• mengganggu pekerjaan atau aktivitas rumah tangga;

• menyebabkan seseorang tersesat di tempat yang sebelumnya dikenal;

• menyebabkan kesulitan melakukan aktivitas yang sebelumnya dikuasai;

• menimbulkan perubahan perilaku atau kepribadian yang nyata; atau

• membuat keluarga atau orang terdekat merasa khawatir.

Jangan melakukan diagnosis sendiri berdasarkan informasi dari internet. Pemeriksaan oleh tenaga kesehatan diperlukan untuk menentukan penyebab dan langkah penanganan yang sesuai.


Daftar Pustaka

1. World Health Organization. Dementia. WHO; 2026.

2.. Alzheimer's Disease International. World Alzheimer’s Month 2026 Campaign Toolkit. 2026. (Alzheimer's Disease International)

3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. PNPK Tata Laksana Demensia 2026 – Keputusan Menteri Kesehatan Nomor       HK.01.07/MENKES/273/2026. 19 Agustus 2026. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)

4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Alzheimer pada Lansia. Ayo Sehat Kemenkes RI. (Ayo Sehat)