Terlihat Baik-Baik Saja Padahal Depresi, Bisa Terjadi!
- Jumat, 19 Januari 2024
- Post by PKRS
- 4.712 kali
- SHARE
Noerul Ikmar, S.KM
Pernahkah mendengar pepatah tertawa belum tentu bahagia? Seperti itu mungkin gambaran yang tepat untuk mendeskripsikan mental seseorang dengan depresi. Gejala klinis yang sulit dilihat oleh kasat mata tetapi nyata terjadi. Depresi merupakan suatu gangguan mental yang sulit untuk terlihat dari raut wajah. Bahkan, banyak orang yang mengalami gangguan ini tetapi tidak sadar apabila sudah terserang.
Kita bisa saja terlihat biasa saja, penuh senyuman atau tawa padahal sedang mengalami depresi. Hal tersebut bisa saja disebut dengan smiling depression atau tersenyum untuk menutupi rasa depresinya. Tindakan tersebut cukup berbahaya. Orang lain akan sulit memahami kondisi psikologis kita. Kondisi tersebut bisa membuat kita terlambat untuk memperoleh pertolongan.
Sulit dipercaya bukan ada perilaku depresi yang seperti itu? Hal ini dikarenakan penderita tidak ingin membebani orang lain khususnya orang terdekat dengan kondisinya. Bisa saja penderita malu untuk menampakkan perasaannya di depan orang lain karena taku dianggap lemah. Akhirnya, penderita berusaha menyangkal kondisinya. Hal ini juga dapat dikarenakan masih adanya stigma tentang gangguan jiwa sehingga penderita takut apabila berimbas ke pekerjaannya. Bahkan, ada juga yang menutupi kondisinya supaya tetap terlihat sempurna di mata orang lain.
Sulitnya mengidentifikasi tanda-tanda dari depresi ini membuat penderita tidak segera memperoleh bantuan profesional yang seharusnya. Karena bisanya penderita terlihat baik-baik saja, tetap menyelesaikan perannya meskipun tidak maksimal. Setidaknya ada beberapa hal yang dapat terlihat yaitu:
1. Pola makan dan pola tidur yang berubah;
2. Muncul rasa putus asa;
3. Kehilangan motivasi;
4. Tidak tertarik pada hal-hal yang sebelumnya disukai.
Setelah muncul tanda-tanda tersebut biasanya akan diikuti dampak-dampak lainnya. Dampak yang akan dirasakan oleh penderita antara lain seperti kesulitan konsentrasi dalam bekerja. Sulit konsentrasi ini muncul karena adanya gejala somatis pada bagian tubuh tertentu yang bahkan bisa berpindah-pindah sehingga penderita seakan menderita sakit fisik. Kondisi depresi yang berat bahkan juga menimbulkan pikiran untuk mengakhiri hidup atau bunuh diri.
Apa yang dapat kita lakukan apabila kita mengalaminya?
Apabila tanda-tanda di atas muncul minimal selama dua minggu dan tidak kunjung hilang, artinya harus segera mencari pertolongan. Kita dapat mengakses layanan kesehatan di rumah sakit untuk bertemu psikolog atau psikiater. Kita juga disarankan untuk melakukan manajemen stres. Makanan yang bergizi seimbang, teratur dan juga olah raga juga dapat membantu meningkatkan ketenangan jiwa. Namun, yang paling utama adalah mengakses bantuan tenaga profesional (psikolog atau psikiater)
Apabila teman atau keluarga kita yang mengalami gejala tersebut minimal selama dua minggu, yang dapat kita lakukan adalah:
1. Berperan sebagai pendengar dengan menawarkan bantuan dan tetap berada di dekat penderita;
2. Memperhatikan perubahan perilaku dari penderita;
3. Membantu penderita untuk bertemu dengan tenaga profesional.
Sumber Gambar:
https://www.freepik.com/free-vector/sad-woman-hiding-emotions-mask-flat-illustration_12699833.htm
Referensi:
Bhattacharya, S., Hoedebeck, K. L., Sharma, N., Gokdemir, O., & Singh, A. (2019). “Smiling depression”(an emerging threat): Let’s Talk. Indian Journal of Community Health, 31(4), 433-436.
